Kalau FPI dibubarkan sama artinya membubarkan Indonesia

JAKARTA – Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, tak setuju jika kekerasan yang dilakukan satu dua aktivis dicap sebagai kelakuan ormasnya dan menjadi pembenaran alasan untuk membubarkan FPI.

Bagi Rizieq, jika ada pihak yang berpikiran seperti itu, maka dengan alasan yang sama, partai politik (parpol) bisa dibubarkan. Sebab, banyak sejumlah massa parpol juga melakukan kekerasan dan tindakan anarkis saat calon yang didukungnya kalah dalam Pilkada.

Bahkan, massa parpol di Medan membunuh Ketua DPRD setempat.”Partai mana yang massanya tidak melakukan kekerasan? Mereka yang kalah pilkada, bakar kantor Bupati, kantor DPRD dibakar. Itu kan massa parpol, kenapa partai itu tidak dibubarkan saja? Yah, enggak begitu logika berpikir kita. Jadi, kalau ada massa parpol membakar kantor bupati, yah massa itu yang ditindak karena melanggar hukum, bukan parpolnya yang dibubarkan. Kalau logikanya, ada massa FPI yang melakukan kekerasan, FPI-nya dibubarkan, maka bubarkan saja semua partai, karena massanya sudah melakukan anarkis luar biasa, yang belum pernah dilakukan FPI. FPI tidak pernah membakar kantor DPRD dan kantor Bupati,” kata Rizieq di kantor FPI, Petamburan, Jakarta, Minggu (3/6/2012).

Ia menegaskan, jika ada aktivis FPI yang melakukan kekerasan dan anarkisme, maka dia lah yang harus diproses hukum, bukan ormasnya. Jika disamaratakan, maka sebenarnya negara pun bisa dibubarkan.

“Kalau logika berpikirnya sepertu itu, maka negara Indonesia mesti bubar, karena lebih dari 50 ribu pejabat dari atas sampai bawah terlibat korupsi. Berarti kalau sudah 50 ribu pejabat korupsi, maka negara gagal. Apa harus begitu? Enggak begitu dong. Negara tak boleh bubar. Kalau keadaannya begitu, maka pejabat yang bersalah lah yang harus dihukum,” ujarnya.

Tokoh FPI yang pernah divonis 1,5 tahun penjara karena terlibat penyerangan terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas ini menegaskan, FPI akan terus bergerak terhadap segala bentuk pertunjukan yang mempertontonkan pornografi dan pornoaksi di Indonesia, termasuk di daerah-daerah.

Rizieq menyadari tidak seorang pun bagian dari FPI yang kebal hukum. Karenanya, banyak anggota FPI yang terlibat pelanggaran diproses hukum dan masuk bui, termasuk dirinya.

“Bahkan saya selaku aktivis FPI tidak luput, saya pernah diadili, dipenjara. Itu risiko perjuangan. Jadi, siapa bilang FPI berjuang gratis tanpa hukuman. Hukum sudah berjalan, kami menghormati polisi yang bertugas. Polisi punya hukum, tapi kami tidak boleh membiarkan Indonesia hancur oleh maksiat,” ucapnya.

Tokoh ormas Islam yang sempat mengenyam pendidikan di SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta (1979) ini menegaskan, FPI berprinsip bahwa hukum agama di atas segalanya.

“Setiap aktivis FPI, pertama wajib tunduk pada hukum agama, baru setelah itu wajib tunduk kepada hukum pidana selama tidak bertentangan dengan hukum agama,” tukasnya.

HUKUM WANITA BERJILBAB, ANCAMAN BAGI YG TIDAK BERJILBAB, MAKNA JILBAB DAN DALIL

Pada edisi al-Hujjah yang lalu (Jilbab Wanita Muslimah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani) telah dimuat syarat-syarat pakaian yang wajib dikenakan oleh wanita muslimahsampai dengan mengenakan pakaian yang memenuhi syari’at . Sehingga jadilah wanita muslimah berbeda dengan wanita yang bukan muslimah (baca: wanita kafir) dan memang seharusnya demikian.

Pada edisi kali ini kami sajikan kepada sidang pembaca hukum berjilbab atas wanita muslimah, suatu ketetapan yang tidak bisa ditawar-tawar atau ditolak dengan dalih apapun, karena Allah yang kita sembah dengan ibadah shalat dan yang lainnya, Dialah juga yang mewajibkan wanita muslimah untuk berjilbab.

Allah berfirman:

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).MAKNA JILBAB

Dalam ayat di atas ada kata jalaabiib, bentuk plural dari mufrodnya (kata tunggalnya) yaitu jilbab, yang memiliki makna:

1. Kerudung besar yang menutupi semua anggota badan, sebagaimana penjelasan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi 14/232).

 

2. Pakaian yang menutupi semua anggota badan wanita, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qotadah, Hasan Basri, Said bin Jubair, Ibrahim An-Nakhoi dan Atho’ al­Khurasani. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/424, Al­Muhalla 3/219).


3. Selimut yang menutupi wajah wanita dan semua anggota badannya tatkala akan keluar, sebagaimana yang dituturkan Ibnu Sirin. (Lihat Tafsir Ad-Durul Mansur 6/657, Tafsir Al­Baidhowy 4/284, Tafsir An-Nasafi 3/453 581, Fathul Qadir 4/304, Ibnu Katsir 6/424 dan Tafsir Abu Su’ud 7/108).


4. Pakaian yang menutup dari atas kepala sampai ke bawah, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas. (Lihat Tafsri Al-Alusy 22/88).


5. Selendang besar yang menutupi kerudung. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud dan para tabi’in. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/ 425).


6. Pakaian sejenis kerudung besar yang menutupi semua badan, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.(Lihat Tafsir Ats­Tsa’labi 2/581).


Dari keterangan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa jilbab bukanlah kerudung yang digantungkan di leher, bukan pula kerudung tipis yang kelihatan rambutnya atau kerudung yang hanya menutup sebagian rambut belakangnya, bukan pula kerudung sebangsa kopyah yang kelihatan lehernya atau kerudung yang hanya menutup ujung kepala bagian atas seperti ibu suster dan wanita Nashraniatau kerudung yang kelihatan dadanya, dan bukan pula selendang kecil yang dikalungkan di pundak kanannya.

HUKUM BERJILBAB

Para ulama’ bersepakat bahwa jilbab hukumnya adalah wajib berdasarkan Al-Quran dan sunnah,

A. Berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an:

1. Surat A1-Ahzab: 59.

Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.


2. Surat A1-Ahzab: 33.

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.


Perintah wanita agar menetap di rumah menunjukkan keharusan berjilbab tatkala keluar darinya.

 

3. Surat An-Nur: 31

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

Apabila menampakkan perhiasan saja dilarang bagi wanita, lantas bagaimana lagi kalau bersolek dan menampakkan keindahan tubuh mereka?!!.

 

B. Adapun dalil-dalil dari Sunnah:

1. Hadits yang mengancam wanita tidak masuk surga karena tidak berjilbab. Rasulullah r bersabda: Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapl, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 th)..(HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421).

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa tabarruj (bersoleknya kaum wanita) termasuk dosa besar”.

 

2. Wanita adalah aurat, dia wajib berjilbab. Rasulullah r bersabda:

Wanita itu adalah aurat, apabila dia keluar akan dibuat indah oleh syetan.”(Shahih. HR Tirmidzi 1093, Ibnu Hibban dan At-Thabrani dalam kitab Mu’jmu1 Kabir.Lihat A1-Irwa’: 273).


3. Ummu Salamah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah? Beliaurbersabda: Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkäl, lalu ia bertanya lagi: Bagaimana bila masih terbuka kakinya? Beliau menjawab: “Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata:“Hadits hasan shahih”).


4. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia tidak memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah SAW: “Hendaknya Saudarinya meminjaminya Jilbab untuknya “. (HR. Bukhari No. 318).


Tiada akan berhenti blog ini menyerui kamu wahai ukhti, sebelum ALLAH Ta’ala yang meneguri kamu dengan adjabnya..Mashya ALLAH. Oleh karena.. demikianlah kamu, sebahagian kamu ingkar dengan ayat-ayat ALLAH dan tiadalah seorang juapun diantara kamu pada jalan yang lurus malainkan sedikit sekali. maka ketahuilah olehmu Firman ALLAH Ta’ala dalam surah Al-Ahjab :59 diatas yang berbunyi:

 

“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,”


artinya : Niscaya demikianlah yang membedakan kamu dengan wanita kafir, jika kamu berkumpul ditengah keramaian tampaklah orang -orang diantara kamu yang berhijab menurut syari’at islam. sedang bagi tiada berjilbab dan tidak pula dengan hidjab niscaya kamulah yang menjadikan dirimu sama dengan wanita-wanita kafir itu.

ketahuilah..bahwasanya islam itu amatlah keras kepada kekafiran,kekufuran, kemudharatan, keingkaran dengan sekalian gerangan dosa itu sekaliannya. jika engkau merasa berat dengan syari’at islam yang diwajibkan atas kamu, maka ambillah olehmu agama selain daripada islam karena engkau akan dapat bersuka ria dengan sesamamu. tapi ukhti..ingatlah..bahwa sesungguhnya hanya islam yang menyanjung-nyanjung kesucianmu lagi meninggikan derajatmu dari yang lain. Islam begitu mencintaimu, memperhatikanmu, menyayangimu, memuliakanmu, memberi kebaikan yang tiada henti-hentinya padamu, melainkan sebahagian kamulah yang berpaling.

 

Jika terdapat perkataan yang salah dalam artikel ini, maka atas kamu sekalian aku memohon maaf..sedang kepada ALLAH aku memohon ampun..Wallahu A’lam

ISTRI SELINGKUH, APA YANG HARUS DILAKUKAN SUAMI ?

Assalamu’alaikum Wr Wb!

Saya berusia 36 tahun dan istri saya 35 tahun, telah menikah kurang lebih 10 tahun dengan dikaruniai satu orang anak lelaki..

Bulan Maret 2012 kemarin keluarga saya mendapat cobaan berat, karena terbongkarnya perselingkuhan yang dilakukan oleh istri saya sejak bulan Juli 2011 dengan bekas teman kerja saya dulu. Terbongkarnya perselingkuhan tersebut adalah saat saya mulai curiga dengan kegiatan istri saya yg mulai asyik telpn & sms-an dengan seorang lelaki yang notabene adalah bekas teman kerja saya, tanpa sekalipun bekas teman kerja saya tersebut berniat menghubungi saya layaknya seseorang yg berteman. Bahkan beberapa kali saat istri saya sudah tidur di malam hari saya mendapati HP istri saya menerima sms dan missed call yg artinya minta dihubungi dari bekas rekan kerja saya tersebut pada larut malam bahkan pada dinihari yg saya nilai sangat tidak wajar, bahkan sangat tidak sopan. Maka akhirnya saya pun berupaya meminta penjelasan pada istri saya atas kecurigaan saya tersebut.

Singkat kata, akhirnya setelah didesak istri saya mengakui perselingkuhannya dan meminta maaf kepada saya dengan berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya (taubat). Istri saya mengaku hanya bertemu beberapa kali tanpa melakukan hubungan badan. Hanya sebatas mengobrol, saling curhat, dan jalan2 biasa saja. Selebihnya, hubungan mesra mereka dilakukan via telpn/HP dan sms. Namun yang menyakitkan hati dari isi sms2 yang saya baca dari HP istri saya itu menggunakan bahasa2 yang sangat mesra, bahkan banyak juga yang “jorok” alias cabul. Menurut saya tak mungkin bisa seperti itu jika tidak ada unsur “nafsu syahwat” di dalamnya.

Pada satu kesempatan saya pun memancing bekas rekan kerja saya tersebut untuk janjian ketemu dengan istri saya agar dapat saya “tangkap” basah atas hubungan terlarangnya dengan istri saya tersebut, dan “jebakan” tersebut berhasil. Rekan kerja saya itu pun mengaku serta meminta maaf kepada saya. Meski sakit hati, saya akhirnya memafkannya dan sekaligus memintanya untuk bertaubat karena dia pun sudah punya anak dan istri. Istri saya dan bekas rekan kerja saya tersebut pun akhirnya bersedia membuat pernyataan di atas materai.

Pertanyaan saya:
Apa hukum Islam yang berlaku untuk istri saya? Apa yang harus saya lakukan? Karena meski saat ini saya sudah ikhlas memaafkan istri saya, namun dalam kehidupan rumah tangga saya sehari-hari saya menjadi tidak tenang, terasa seperti masih ada rasa was-was & “ganjalan” dalam hati saya. Terutama pada saat saya berada di luar rumah untuk menjalankan bisnis/usaha saya, sehingga seringkali membuat pekerjaan saya “kacau” dan terbengkalai

Saya akui, nafsu biologis atau syahwat saya kepada istri memang masih ada, karena saya masih bisa menunaikan kebutuhan “bathin” tersebut. Apalagi setelah peristiwa tersebut istri saya seperti berubah menjadi lebih “hangat” dan lebih agresif, sangat jauh berbeda dengan sebelum terbongkarnya peristiwa perselingkuhannya tersebut. Secara syahwat saya sangat senang, namun dibalik itu selalu saja ada pertanyaan yang cukup mengganggu dalam benak saya: apa gerangan yang sedang terjadi dengan istri saya? Mengapa jadi berubah drastis begini sehingga justru kekhawatiran baru yang muncul pada diri saya?

Untuk itu saya mohon bantuan saran agar saya tidak salah melangkah dan dapat memberikan tuntunan yang benar kepada istri saya dalam mengarungi rumah tangga yang diridhoi oleh Allah SWT. Terima kasih sebelumnya, semoga rahmat Allah SWT selalu menyertai kita semua. Amin.
Wassalam
AS


JAWABAN 4: ISTRI SELINGKUH, APA YANG HARUS DILAKUKAN SUAMI?

Indonesia bukan negara yang memberlakukan hukum Islam sebagai hukum positif. Jadi, tidak ada hukuman bagi istri Anda. Seandainya Anda tinggal di suatu negara yang memberlakukan hukum Islam, maka hukum wanita berzina yang sudah menikah seperti istri Anda akan dirajam (dilempar batu) sampai mati Kalau memang terbukti di depan pengadilan.

Adapun tentang status hubungan Anda dengan istri, maka itu tergantung pada Anda sendiri sebagai suami. Anda dapat melanjutkan hubungan rumah tangga atau menceraikan istri Anda tersebut seperti anjuran Nabi.

Kalau Anda masih sayang padanya, silahkan lanjutkan rumah tangga dengannya. Supaya tidak terulang kasus serupa, disarankan agar Anda sebagai kepala rumah tangga menunjukkan sikap kepemimpinan yang tegas tapi mengayomi agar rumah tangga dapat berjalan harmonis dan tidak ada yang merasa dikhianati. 

Ketegasan seorang suami antara lain seperti (a) dapat mendeteksi sejak dini gejala-gejala perselingkuhan dan melakukan pencegahan sedini mungkin; (b) perilaku istri di luar sampai yang terkecil hendaknya diketahui suami, begitu juga sebaliknya seluruh aktivitas suami di luar diketahui istri, ini untuk meningkatkan saling percaya. Jadi, saling percaya itu tidak gratis. Bukan asal saling percaya membuta. Saling percaya harus dilakukan dengan metode dan langkah taktis yang rasional. Saling percaya buta adalah kebodohan. Dan kebodohan akan berakhir pengkhianatan.

Adapun perubahan istri Anda dari dingin sekarang menjadi hangat saya kira wajar. Dulu dingin karena ada “tempat lain” untuk tempat berhangat yaitu selingkuhannya. Sekarang hangat pada Anda, karena Anda satu-satunya ekspresi cintanya. 

HUKUM MENDOAKAN BUTUK PADA SUAMI SELINGKUH

1. Hubungan suami istri yang harmonis akan terjadi apabila kedua belah pihak saling percaya dan saling manyayangi satu sama lain dengan tulus.

Cinta dapat meningkat apabila pasangan berusaha untuk mempekercil perbedaan dan memperbesar persamaan. Berusaha saling memberi, bukan saling menuntut. Saling meningkatkan tenggang rasa d`n sensitivitas.

Rasa sayang akan menurun dan kemudian pudar apabila spirit “memberi” tidak ada lagi. Pada poin ini, pertengkaran kecil akan mulai dan sering terjadi. Setiap satu pertengkaran, akan mereduksi dan bahkan menghilangkan satu buah cinta dari sanubari setiap pasangan. Apabila cinta yang ada tidak banyak, maka terjadilah defisit cinta. Peran cinta kemudian diganti oleh benci. Pada titik ini, tidak ada solusi kecuali bercerai. Inilah yang disebut irreconcilable differences (perbedaan yang tak dapat dipertemukan).

2. Hukumnya boleh bagi istri mendoakan buruk pada suami yang telah berlaku dzalim (selingkuh atau KDRT) asal tidak berlebihan. Dengan dalil sebagai berikut:

a. Allah berfirman dalam Quran Surah (QS) An-Nisa’ 4:148: لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ
Artinya: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

b. Hadits riwayat Ibnu Abi Hatim, Nabi bersabda رُخِّصَ لَهُ أَنْ يَدْعَو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَعْتَدِيَ
Artinya: Dibolehkan (diberi dispensasi) bagi seseorang untuk mendoakan (buruk) pada orang yang menzaliminya dengan tanpa berlebihan. (Lihat Tafsir Tabari IX/344).

c. Hadits riwayat Tirmidzi no. 1905, Nabi bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Artinya: Tiga doa yang pasti istijabah (diterima oleh Allah): doa orang teraniaya, doa musafir, doa ayah pada anaknya.

MEMAAFKAN ITU LEBIH BAIK

Walaupun mendoakan jelek pada suami atau siapapun yang menzalimi itu boleh, namun memaafkan itu lebih baik. Terutama baik bagi diri sendiri karena telah melatih diri untuk bersifat agung (magnanimous). Dalilnya sebagai berikut:

a. Allah berfirman dalam Asy-Syuro 42:40 وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ 
Artinya: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. 

b. Allah berfirman dalam Al-Baqarah 2:237 وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan. 

c. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Muslim no. 2588: مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
Artinya: Allah akan menambah kemuliaan pada orang yang memaafkan.

HUKUM MENCERAIKAN ISTRI YANG INGIN TAUBAT

Secara syariah suami mempunyai hak untuk menceraikan sang istri kapan saja dia mau. Baik karena istri selingkuh (berzina) atau tidak. Suami cukup mengatakan “Aku ceraikan kamu” maka terjadilah perceraian itu secara agama. Walaupun secara negara perceraian semacam itu belum terjadi talak sampai pengadilan agama memutuskan. Lihat KHI (Kompilasi Hukum Islam) dan UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974.

Apabila suami-istri sudah dikaruniai anak, akan lebih ideal kal`u suami memaafkan istrinya yang berjanji taubat nasuha. Dengan pertimbangan demi masa depan anak. Apabila belum punya anak, seperti anjuran Nabi di atas, perceraian adalah solusi terbaik. 

Istri juga harus sadar bahwa ketika berselingkuh dia tidak hanya mengkhianati suaminya dan Allah, tapi juga telah menghancurkan martabat, muruah dan harga diri suaminya.

HUKUM MENCERAIKAN ISTRI YANG SELINGKUH

assalamualaikum wr.wb
begini pak ustadz hubungan orangtua saya sudah tidak baik dikarenakan ibu saya diketahui selingkuh dengan mantan pacarnya semasa smp. mereka bertemu saat reuni beberapa tahun lalu. setelah reuni itu terlihat perubahan sikap yang signifikan dari ibu saya, ayah saya curiga lalu sering memantaunya. hingga pada akhirnya fix ibu saya benar2 selingkuh. awalnya ayah saya memberi kesempatan untuk bertaubat dan memaafkannya serta menuntunnya ke arah yang benar. namun nyatanya ibu saya dan selingkuhannya itu tetap menjalin hubungan yang dicurigai diperantara oleh sahabat ibu saya semasa smp. ayah saya geram dan dengan tegas mengajak cerai namun ibu saya menangis dan memohon karna di satu sisi ibu saya berat karna saya dan di satu sisi lagi si pria itu tidak memberi kepastian hubungan karena pria itu juga memiliki keluarga dan bahakan keluarganya sudah sering menghina dan mengingatkan ibt saya tapi ibu saya telah dibutakan cinta lama itu. saya sebagai anak merasa kasihan pada keduanya karena ayah saya tersiksa terus2an membohongi perasaannya demi terlihat biasa saja didepan saya dan sisi lain ibu saya juga sudah tidak bisa bergabung lagi dengan saya dan ayah saya karna jalan yang ia pilih telah berbeda.

pertanyaan :

1. ‘Kan dalam islam disebutkan jika bercerai itu haram tapi jika kondisinya seperti ini, apakah cerai masih haram?
2. ibu saya adalah orang yang rajin solat, berdoa, dan mengaji. namun telah dibutakan oleh cinta lama. apakah ibu saya berdosa?
3. apa yang harus saya lakukan dalam hal ini sebagai seorang anak?

saya mohon untuk merahasiakan alamat email atau pun nama saya
jika bisa tidak mempublikasikan ini ke website atau blog anda (redaksi: semua konsultasi akan dipublikasikan agar dapat diambil manfaat oleh pembaca lain. Tentu dengan nama dan identitas penanya dirahasiakan)
terimakasih, mohoon solusinya
NP

via email ke alkhoirot@gmail.com

JAWABAN 1: HUKUM MENCERAIKAN ISTRI YANG SELALU SELINGKUH

JAWABAN
1. Bercerai itu tidak haram dalam Islam. Baik karena ada perselisihan atau tidak. Akan tetapi tentu saja dianjurkan untuk tidak bercerai kecuali karena terj`dinya perselisihan. 

Rasulullah bersabda: أبغض الحلال إلى الله الطلاق ِArtinya: Perkara halal yang tidak disukai Allah adalah perceraian (talak). HR. Abu Daud, Baihaqi, Ad-Daruqutni.

2. Semua orang yang melakukan perbuatan yang dilarang Islam adalah dosa. Apakah dia rajin mengaji dan shalat atau tidak.

3. Sebaiknya Anda meminta ayah Anda agar mengingatkan ibu Anda agar menghentikan perbuatannya dan memintanya untuk bertaubat nasuha. Anda dapat juga membantu ayah untuk mencari orang yang disegani dan dihormati oleh ibu Anda agar menasihatinya untuk berhenti dan bertaubat. 

Kalau segala upaya tidak berhasil, maka tidak ada gunanya melanjutkan hubungan suami-istri dalam situasi seperti itu. Karena itu, ada baiknya Anda memberi saran pada ayah Anda agar menceraikannya. 

Namun demikian, kalau ayah Anda masih sayang dan tidak mau menceraikannya, maka itupun tidak apa-apa. Karena perzinahan istri (atau suami) tidak merusak keabsahan suatu pernikahan. Walaupun menurut Imam Ahmad, menceraikan istri yang berzina adalah sunnah (dianjurkan).

Berdasarkan sabda Rasulullah:

جاء رجل إلى النبي _صلى الله عليه وسلم_ وقال: إن امرأتي لا تمنع يد لامس. قال: غربها قال أخاف
أن تتبعها نفسي قال: استمتع بها

Artinya: Seorang laki-laki datang menghadap Nabi dan berkata: Istri saya tidak menolak tangan jahil (baca, suka selingkuh). Nabi menjawab: ceraikan dia. Laki-laki itu berkata: Tapi saya masih sayang. Nabi berkata: Kalau begitu, pertahankan (tidak perlu bercerai). Hadits riwayat (HR) Abu Daud.