Kisah Nyata dari poligamiindonesia.com

ISTRIKU YANG PUNYA UANG

27 November 2008

Abdillah HM
Tangerang, Banten

Aku hanyalah seorang guru pada sebuah madrasah aliyah swasta di Tanggerang, Banten. Sebagai guru pada sekolah yang tidak terlalu maju, tentu saja gajiku pun tidak seberapa. Meski demikian, aku setiap hari berangkat mengajar dengan mobil. Aku sudah pernah sekali berumrah dan sekali berhaji. Rumah keduaku, labih bagus dari rumahku yang pertama. Sedangkan hampir semua teman sesama guru tidak merasakan “kelebihan” yang kumiliki.
Bagi orang yang belum kenal saya, mungkin merasa aneh dengan kehidupanku. Tapi rekan-rekan guru di madrasah semuanya sudah maklum, bahwa semua fasilitas yang kumiliki itu adalah hasil dari kerja keras istri keduaku, Asriani. Aku menikah dengan Asriani sebagai istri kedua pada tahun 1999 lalu. Ketika itu usia kami terpaut tiga, aku 42 sedangkan Asriani 39 tahun.
Ceritanya bermula dari perjalananku mengunjungi seorang teman di Surabaya dengan kereta api. Di sampingku duduk seorang perempuan yang belakangan diketahui bernama Asriani. Semula aku tak menyangka kalau Asriani, belum menikah. Betapa tidak, pribadinya yang terlihat matang, terpelajar, punya usaha perdagangan yang maju dan berusia hampir 40 tahun. Sebelum berpisah di Stasiun Pasar Turi, Asriani mengundangku datang ke kantornya di Jalan Mayjen Soengkono, jika urusan silahturahim teleh selesai.
Seperti tak bisa menahan keinginan, kesesokan harinya aku datang ke kantor Asriani. Benar saja, perusahaan Asriani lumayan maju dengan karyawan yang cukup banyak. Di ruang kerjanya, aku bertanya, mengapa belum juga menikah? Padahal tak ada lagi yang menjadi beban dalam hidup kamu. Jawaban yang dilontarkan Asriani cukup mengagetkan, bahwa dia yakin tak ada laki-laki yang mau menjadi suaminya. Menurutnya, laki-laki yang sukses seperti dia tentu tak mau memperistrinya karena sudah pasti mereka sudah menikah. Dan jika mereka mau menikah lagi, yang dipiluh mereka adalah perempuan mudan dan bersedia “disimpan”. Sedangkan laki-laki dengan status ekonomi di bawahnya, tentu segan untuk mempersuntung dirinya. “Kecuali, Anda mau menjadi istriku,” tantang Asriani tanpa basa-basi.
Akupun menanggapi serius “tantangan” Asriani ini. Kebetulan istriku, sudah lama mempersilahkan aku menikah lagi jika memang ada yang cocok. Keikhlasan istriku itu tentu dilatarbelakangi oleh pendidikan keluarganya yang cukup baik soal agama.
Aku dan Asrianya akhirnya menikah. Sebagai istri yang sudah memiliki penghidupan sendiri, Asriani tentu tidak menuntutku memenuhi berbagai kebutuhan ekonominya. Bukankah dia sendiri telah memiliki segalanya?
Jadi, sesungguhnya, yang memiliki uang adalah istri keduaku yang sudah menjadi pengusaha sukses sebelum kami menikah.

 

Oleh: Abdillah HM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s